Cerita dari Perbatasan Negara Georgia dan Armenia



Usianya bisa jadi sekitar 35 tahun-an, tapi bisa jadi juga sih 30an awal, perempuan ber make up biasanya kelihatan lebih tua, jadi saya agak susah menebak umur berapa perempuan yang ada di hadapan saya ini. 
Bahasa Inggris nya putus-putus, ah bisa dibilang tidak bisa bahasa Inggris, aneh juga saya pikir, pekerjaannya kan banyak bertemu turis yang masuk ke perbatasan negaranya, tapi yang ditugaskan disana justru yang tidak bisa berbahasa Inggris, malah lebih jago berdempul, lihat saja foundation di wajahnya yang tebal itu.

"You need a visa!" bolak balik dia bilang seperti itu, dan bolak balik juga jawaban saya sama "No, I can get Visa on Arrival! See this!" sambil saya tunjukkan halaman di paspor saya yang telah tertempel visa Georgia disitu, ini memang kedua kalinya saya masuk negara Georgia lagi setelah saya menyelesaikan perjalanan dari Armenia, dimana sebelum ke Armenia saya tiba di Georgia dari Brussels, keimigrasian Georgia di bandara memberikan saya visa on arrival seperti peraturan yang waktu itu memang berlaku. Jika VOA tersebut bisa saya dapatkan dari keimigrasian negara yang sama, kenapa juga selang 5 hari berikutnya VOA saya justru dipersulit. 

Perempuan itu tetap kekeuh bahwa saya harus mengurus visa sebelum tiba di Georgia, sambil menanyakan surat-surat lain seperti invitation letter dan booking-an hotel selama saya akan tinggal di Georgia nanti, saya tahu sebenarnya dia hanya mempersulit tanpa ada solusi.
Untungnya saya bergabung dengan excursion group dari Armenia menuju Georgia, dan si pemandu wisata nya ini dengan setia menemani saya di loket keimigrasian darat perbatasan negara Georgia - Armenia ini.




Namanya Gregory, saya ingat betul namanya karena kebanyakkan pria di Armenia memiliki nama Gregory, dia sangat membantu menterjemahkan apa yang ditanyakan oleh si perempuan keimigrasian berambut pirang di cat sendiri, ber rok mini ketat, dan stocking hitam lengkap dengan over the knee boots nya, yup Anda tidak salah baca, staff keimigrasian ini pakai boots sampai lutut, kalau saja dia tidak berdiri di area keimigrasian, saya pasti mikirnya ini perempuan dari balik jendela di red district Amsterdam atau Scharbeek dekat Brussels. 

Saya sudah mulai memikirkan plan B, kalau staff ini tetap tidak memperkenankan saya masuk negara Georgia lagi, opsi terburuknya adalah saya kembali lagi ke Armenia dan membeli tiket one way untuk pulang ke rumah dari Yerevan, Armenia. Urusan visa masuk Armenia easy peasy, asli deh gampang sekali, urusan keimigrasian Armenia sudah jauh lebih maju dibandingkan Georgia, hanya e-visa saja atau VOA juga bisa. Dan saya pun mulai hitung-hitung extra budget yang mesti saya keluarkan lagi kalau plan B ini sampai kejadian. 
Bukan apa, seperti yang saya bilang tadi karena saya bergabung dalam excursion group, otomatis ada juga beberapa peserta yang bergabung dan menunggu saya di bus. Iya, hanya saya dan paspor hijau saya yang mereka tunggu, peserta lainnya ada yang dari UK, lalu Canada dan 2 Belgia who is my husband and his friend yang ikutan trip kita ke Georgia dan Armenia ini. 

Hampir 30 menit waktu berlalu dan saya masih terdampar di depan loket keimigrasian Georgia ini, si perempuan tadi bolak balik mencari 2nd opinion sampai 7th opinion kali dari kolega-kolega nya, telpon sana sini, sampai akhirnya bunyi hak sepatu ptetak pletook terdengar makin santer, si perempuan pun tahu-tahu ada di hadapan saya lagi :   "pay the visa in the cashier !" 
Rrrrrrrrrr......buru-buru saya bayar visa itu sebelum ada kejutan lain yang tidak menyenangkan, dan buru-buru juga saya menuju lokat imigrasi untuk minta di stempel dan voila, kembali masuklah saya lagi ke negara Georgia, disambut oleh senyum kawan seperjalanan dari Armenia itu, sepertinya mereka pun lega melihat saya bisa kembali bersama-sama melanjutkan perjalanan, untungnya sebelum berangkat saya telah memperingati mereka akan kemungkinan dipersulitnya saya masuk ke Georgia sehingga mereka pun paham.

Kenangan akan perempuan bergincu merah dengan rok ketat mini nya itu tidak pernah saya lupakan, begitu juga dengan wajah Gregory yang dengan setia menemani saya, dan senyuman para kawan seperjalanan yang dengan mereka kami berbagi canda sepanjang perjalanan dari Armenia ke Georgia beberapa hari itu. 
30 menit menunggu tanpa kepastian di perbatasan kedua negara itu tidak membuat saya kapok untuk datang lagi berkunjung, we ll be back to Georgia and Armenia for sure ! 



* * *

NOTE FOR TRAVELER : 

Mulai tahun ini karena kedutaan besar Georgia telah ada di Jakarta maka wisatawan yang ingin mengunjungi Georgia harus mengurus visa sebelum berangkat. 
hubungi kedutaan Georgia di Jakarta di FB Page untuk detail persyaratan nya: 


Rekomendasi tempat menginap di Tbilisi, Georgia dan Yerevan, Armenia berikut dengan excursion group  : www.envoyhostel.com 

How to travel safe and easy in Georgia and Armenia :

5 comments:

  1. Kok gak dipotret siih si mbaknya? Hahaha. Ikutan gemes sama bootsnya deh. :-D

    ReplyDelete
  2. Walahh.. Parah bet penyambutannya.. Kayaknya kurang ya kisah jalan2 yg seru klo ga ada selipan sdikit drama :D

    ReplyDelete
  3. gan.. bukannya ke goergia bisa dengan evisa dan dpet multiple entry ya ? soalnya saya desember maw ksana dan udah ada evisa yg multiple entry,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Link E-Visa nya terakhir saya cek blm bisa tuh, jadi keknya masih tetep harus ke kedutaan deh

      Delete

Friends, Thank you so much for reading + supporting my blog, and for taking the time to leave me a comment.
Your comment support truly means so much to me.
Have a lovely day! xo, Jalan2Liburan

INSTAGRAM FEED

@soratemplates