Manis Pahit Kota Jakarta

Everyday's view from our favourite bedroom in Jakarta

Dan si Jakarta pun berulang tahun lagi, bitter sweet ya kalau ngomongin Jakarta, tetap ada sweet nya karena saya lahir di kota ini dan sekarang gak tinggal disana lagi, kalau kata orang semakin jauh justru wangi melati, bisa jadi. 
Kamu tahu gak apa yang sering banget saya cari ketika membuka website maskapai untuk cari tiket? Tentunya tujuan dengan airport code CGK, membuktikan bahwa Jakarta tetap punya sisi manis yang bikin rindu. 

Selama mengunjungi Jakarta dalam 7 tahun belakangan ini sering kali saya mesti putar otak mesti dibawa kemana suami saya ini, I love this guy dearly yang sudah terbiasa akan macetnya Jakarta, yang ketagihan keluar masuk mall, atau betah keringatan nemenin saya makan makanan Manado di food court ITC Ambassador. Either dia selalu bisa melihat positive side dari semua itu atau he just love me that much, pokoknya dia gak komplen dengan keriwehan Jakarta. 

Sudah lebih dari setahun yang lalu terakhir kami mengunjungi Jakarta, ini karena tahun lalu ada kesempatan mengunjungi Jakarta 2 kali dalam setahun sehingga kali ini kami menundanya demi bisa mengunjungi destinasi yang lain. 
Di akhir kunjungan kami yang terakhir saya memperkenalkan car free day kepada suami saya yang jatuh setiap hari minggu di Jakarta, kebetulan hotel tempat saya menginap terletak pas di pusat kota, pusat diadakannya car free day ini. 
Program seperti ini memang bukan program baru sih ya, sudah jamak dilakukan di kota-kota besar dunia tapi ini kan di Jakarta, kapan lagi ngerasain jalan tanpa klakson mobil, tanpa macet sama sekali dari kota yang ditahbiskan sebagai kota termacet di dunia.

Suami saya pun sangat menikmatinya, area favorit dia di Jakarta itu adalah di sekitaran Senayan arah hotel Mulia, karena di sisi trotoar banyak pedagang tanaman hias, sebagai orang yang freak akan tanaman, apalagi ini koleksi tanaman khas tropis yang eksotis di matanya, tentunya memberikan nilai lebih saat menikmatinya. 
Dengar-dengar area penjualan tanaman hias di seputaran Senayan ini akan digusur karena dianggap menggunakan bahu jalan yang mestinya untuk pejalan kaki...ah entahlah apa teorinya, sesungguhnya pedagang tanaman ini seperti oasis yang menyegarkan mata di tengah-tengah sibuknya jalan Jakarta. 



Ngomongin Jakarta memang gak ada habisnya, area SCBD yang dulu nya adalah daerah jajahan saya karena lokasi kantor yang berada disitu pun telah berubah wajahnya, deretan resto, cafe, lounge, yang menawarkan suasana berbeda memenuhi jalan Senopati. Kalau dilihat dari menu dan price list tempat-tempat ini sangat aduhai, I mean dibandingkan dengan rata-rata gaji penduduk di Jakarta...upssss!selama ada credit card, gaji kecil gak mengapa! Demi keeksisan dan rasa ingin tahu :-) 
Belum lagi tempat makan yang berada di rooftop gedung-gedung tinggi, menawarkan panorama Jakarta dan skyline nya di waktu malam. Mau reservasi aja susahnya minta ampun, kalau ditelpon dan kita bicara bahasa Indonesia langsung dijawab fully booked, coba deh mas bule yang telpon, langsung dapat tempat. Ironis ya! 
Kadang saya gak percaya dengan daftar negara-negara miskin di Dunia nya Global Finance Magazine, yang menempatkan Indonesia di nomor 63 negara termiskin di dunia di antara negara-negara lainnya, lihat aja para posers yang lalu lalang di mall-mall Jakarta menenteng Chanel Boy keluaran terbaru, negara miskin katanya? :-) 

Jakarta memang bukan New York atau Paris, tapi percayalah kota-kota ini punya dilema  dan issue nya yang sama, pendatang ilegal, gelandangan, drugs dealer, dan disaat yang bersamaan orang berlomba-lomba membeli sebuah lipstik seharga Rp.500.000,-an seperti kacang goreng :-)


Dirgahayu Jakarta ! Kau kota yang kusebut rumah !


12 comments:

  1. akupun jatuh cinta ama kota ini mba :D... 9 thn tinggal di jkt, lama2 toh jd biasa ama macet dan panasnya... kalo lg mudik k medanpun, aku suka kgn ama jkt...

    eh itu pedagang bunga daerah senayan mw digusur?? waduuh, bnr tuh, mrk mah sbnrnya malah bikin bgs jalanan...bunganya cantik2, warna warni...drpd mrk yg digusur, mndingan tuh pedagang2 dvd bajakan yg ambil 1 meter marka JALAN jd tempat jualan, yg digusur... sebel bgt deh kalo liat itu..ga ada bgs2nya, yg ada bikin makin macet

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya denger-denger mau digusur atau dipindahkan ke tempat lain, seneng deh aku ngelewatin tukang pohon di senayan ini apalagi kalau mereka abis nyirem2in keknya seger di tengah chaos dan berdebunya jalan :)

      Delete
  2. nomor 63? tapi kalo ada ipun keluaran terbaru bisa ludess kebeli semuaa kak

    btw foto yg awal itu view dari FX yg kamu cerita yaaa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Mei itu kamar dari hotel yang aku ceritain :))

      Delete
  3. Baca kalimatnya jadi inget :p Kapan lalu nyobain salah satu resto dirooftop krn abis bonusan.. Abis itu semuanya berasa mahall.. Hahhaa.. Tapi dgn keruwetannya kota ini emang ngangenin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bitter sweet memories kalau ama Jakarta, seribet2nya tetep semua ada disana :)

      Delete
  4. Semanis dan sepahit pahitnya Jakarta..tetep ngangeni! Itulah ibukota tercinta kita.

    ReplyDelete
  5. eh, mosok aku baru ngeh kalo yg dipinggiran jalan itu sebenernya para pedagang tanaman, bwahahahaha,....gw kira emang taman kecil pinggir jalan, wkekekek

    ReplyDelete
  6. Pahit manis kota Jakarta? ada benarnya juga sih..

    ReplyDelete
  7. paling pahitnya kalau lg dijalanan, udah macet, orang2 pada ga sabaran... #bikindarahtinggi

    ReplyDelete

Friends, Thank you so much for reading + supporting my blog, and for taking the time to leave me a comment.
Your comment support truly means so much to me.
Have a lovely day! xo, Jalan2Liburan

INSTAGRAM FEED

@soratemplates